Suatu Malam Saat Hujan Turun
Halilintar bercetaran membahana dalam badai hujan air, bukan cintaku. Aku hanya seorang mahasiswa innocent semester 0.5 di sekolah tinggi swasta, disudut keramaian terminal Terboyo. Teronggok diam di dalam sekotak kos teman yang sial (Tita).
Jarum ditangan kanan ku.....
Pinset ditangan kiri ku ....
Aku tak tahu kenapa benangnya ruwet ......
Memang memegang jarum dengan needle holder itu masih biasa (weits), tapi jahitnya yang susah. Apalagi kalau korbannya hanya sepetak gabus tua yang tak bersalah, weits Astaugfirulllah susah. Di tambah dengan lengingan pekikan Tita yang digantun Conan. Alhasil saya hanya bisa sabar menghadapi malam panjang ini. Handphone pun kembali jadi penghibur. Bukan 'nyetel' play listku yang berisi segudang sajak ingkat tinggi bernuansa galau, ataupun whatsapp. Tapi ku putuskan membuka Facebook saja.
Sayang sekali akibat cuaca buruk layanan network terpakasa
Putus nyambung...
Putus nyambung...
Putus nyambung...
Lalu please try again later. Huft, Sasaran pun beralih ke laptop Tita. kesempatan emas walaupun dalam hati tak ku memungkir.
Comment sana-sini ternyata tak cukup menghibur. Tiba-tiba dari sudut lemari seonggok Tita memanggil dengan nada d minor....
Tobe continued
0 comments:
Post a Comment